Articles by "budaya"
Showing posts with label budaya. Show all posts
Jemparingan di Yogyakarta


Liputan Jemparingan dalam program Temurun UseeTV yang dilaksanakan pada 14 Oktober 2019 dapat disaksikan di IG TV @jemparingansiliran atau melalui link berikut :

Part 1 : https://www.instagram.com/tv/CAHzudkA51a/

Part 2 : https://www.instagram.com/tv/CAH4SStAPU2/

Part 3 : https://www.instagram.com/tv/CAJan1YgycA/ 

Part 4 : https://www.instagram.com/tv/CAJmmz5g4bu/

Jemparingan di Yogyakarta

 


YOGYA, KRJOGJA.com - Sowan siliran adalah Rangkaian kedua dari acara hari pariwisata sedunia yang sebelumnya dilaksanakan di Bantul. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 24 september 2018 dan di laksanakan di kampung Siliran, Panembahan kraton, Kota yogyakarta.


Siliran adalah dulunya tempat abdi dalem yang betugas untuk mematikan dan menghidupkan lampu dengan meniup lampu yang dulu masih menggunakan sentir atau api lentera, dari cara meniup lampu tersebut lalu kampung ini dinamakan siliran karena meniup identik dengan sejuk yang di bahasa jawakan dengan silir.

Dimas diajeng yogyakarta 2018 mengangkat keunikan dari kampung siliran yaitu Jemparing Jemparing adalah tradisi budaya asli dari keraton yang hingga saat ini kurang di kenali dan akan di angkat kembali oleh para dimas diajeng agar tradisi Jemparing dapat dikenal dan dapat tersebar luas.

Jemparing adalah seni memanah tradisional dari tradisi budaya kraton dengan menggunakan alat panah tradisional tanpa menggunakan alat modern. Keunikan dari jemparing ini memanah bukan hanya membidik namun menggunakan hati, perasaan. Pemanah saat mengikuti jemparingan harus menggunakan baju jawa, serti sorjan, kebaya, jarik, keris dan minimal menggunakan blangkon. 


"Keunikan jemparingan inilah yang perlu di kembangkan sehingga menarik minat wisatawan saat liburan di Yogyakarta," ujar salah satu panitia kepada KRjogja.com.


https://www.krjogja.com/yogyakarta/1242571216/dimas-diajeng-jogja-angkat-keunikan-kampung-siliran

Jemparingan di Yogyakarta
Jogja merupakan daerah yang istimewa. Keistimewaan Jogja salah satunya terletak pada kekayaan warisan budaya dan kearifan lokal yang dianggap membawa pengaruh besar pada perkembangan masyarakatnya yang dianggap lebih maju dan berkembang pesat dibanding daerah lain. 

Jogja mempunyai keistimewaan dalam menarik minat orang-orang di daerah untuk datang dengan berbagai macam tujuan yang berbeda. Penduduk dari daerah lain datang ke Jogja untuk belajar, mencari nafkah untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi atau sekedar berkunjung dengan melihat hasil kebudayaan dari masyarakat Jawa.


Kekayaan warisan budaya yang ada di Jogja juga meninggalkan banyak nilai-nilai yang menjadi kearifan lokal dan bisa diambil nilai-nilai positif serta dapat memberikan kemanfaatan bagi masyarakatnya. Kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Jogja masih banyak yang melekat dan bertahan sampai sekarang. 

Hal ini sangat terasa pada saat kegiatan/Gladhen Jemparingan di Kampung Siliran yang merupakan salah satu dari sekian banyak kebudayaan yang ada di Jogja. Perempuan turut berpartisipasi dalam mempertahankan kebudayaan melalui Jemparingan yang biasanya hanya diaktualisasikan dalam sebuah keluarga, juga dengan menjaga hubungan baik dalam kehidupan sosialnya dan proses adaptasi dengan lingkungan sekitar.

Perempuan sebagai aktor utamanya. Perempuan mempunyai peran yang besar dalam mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal dimana akan membawa kemanfaatan dari masyarakat itu sendiri. Melalui Jemparingan merupakan salah satu wujud dalam aktivitas sosial seorang perempuan dalam bermasyarakat atau dalam mengaktualisasikan dirinya pada lingkungan publik.

Selain itu peran perempuan sangat diperlukan agar kearifan lokal yang ada dalam masyarakat tidak pudar termakan zaman. Peran perempuan dalam mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal juga terkait dengan berbagai sifat keperempuanan yang penuh kesabaran, dan ketelitian sehingga menjadi suatu inspirasi tersendiri dalam lingkungan keluarga mauapun masyarakat sekitar.

Jemparingan bagi kaum Perempuan menjadi alah satu alasan yang menjadikan Jogja ini semakin Istimewa.
(ap)

Jemparingan di Yogyakarta
Jika kita berbicara tentang jemparingan tentu tidak lepas dengan tradisi dalam menggunakan pakaian jawa dalam setiap event/gladhen-nya. Blangkon/iket, Surjan dan Jarik menjadi perlengkapan pokok bagi para pelaku seni dan budaya jemparingan dalam rangkaian berpakaian jawa-nya.

Sebagai penutup kepala, masyarakat jawa punya budaya memakai iket yang sangat bervariasi/beragam bentuknya. Sebagian pelaku Jemparingan atau panahan tradisional menggunakan penutup kepala dengan instan (blangkon) ada juga  yang  mengunakannya secara manual dengan merangkainya sendiri dari kain/udeng. 

Udeng merupakan sehelai kain yang biasanya diikatkan di kepala laki – laki dengan bentuk dan corak berwarna – warni (putih,hitam,batik dll). Kalau orang jawa bilang 
Iket digawe soko kain batik sing rodho dowo banjur dililitake miturut cara-cara lilitan tinentu neng sirah. Lilitan kain iku kudhu isa nutup kabeh sirah (ndhuwur kuping).
Penggunaan iket yang tidak instan seperti blangkon ini perlu dilestarikan baik tatacaranya, bahan dan jenisnya sehingga budaya penggunaan iket dengan udeng ini tidak hilang begitu saja seiring perkembangan jaman yang serba instan.

#salambudaya
Jemparingan di Yogyakarta
SILIRAN - Sebuah hajatan sebagai rasa  syukur kepada Tuhan Yang Maha  Kuasa, belum lama ini digelar oleh komunitas Benteng Budaya dan Koperasi  Seniman  Jogjapada tanggal 16 Oktober 2016.

kenduri yang dihadiri  sejumlah seniman dan berbagai komunitas tersebut, sebagaimana diungkapkan, Sigit  Sugito,  di samping rasa memiliki, dan  menjaga keistimewan  yang sudah   berjalan selama ini.

Kenduri  kali ini untuk meneguhkan kembali, poros Keraton-Kampung-kampung sebagai pilar keistimewan.
“ Kami sebagai warga  Jogja, tak  terpisahkan dari Jogja Istimewa ingin menjaga dan mengawal perjalanan panjang Jogja Istimewa. Sebagai syukur kami adakan semacam ini ” ungkapnya.

Kenduri diikuti oleh  5 kampung termasuk Kampung Siliran dengan budaya Jemparingan. Dalam acara tersebut menempatkan  uba rampe antara lain: nasi  gurih, ingkung, makan tradisional  disiapkan  di  situs  Bastion (Pojok Beteng Wetan). Kenduri setelah terlebih dulu diberikan do'a dipandu Sudarmi  ( Daruni) asal  dari dusun Trowono, Paliyan.Sedangkan hadir dalam acara kenduri benteng Budaya, al, PADI (Puteri  Adiluhung),dimeriahkan Shalawat “A-Najah”,Monolog  Komunitas  Sego Gurih, dengan actor Riyanto dengan  askah ditulis  Wage Daksinarga,Wayang partisipasi dari Banyumas  dengan  dalang  Kang Jarwo,aktivis IRE dari kampung Biru,Trihanggo,Gamping, Sleman, dan  masyarakat sekitar pojok   Beteng.Seluruh  peserta yang hadir mendapat   nasi gurih dengan  ayam suwir. isan